"Harga Lebih Murah Dibandingkan Dengan Di Gerai Resmi Menjadi Salah Satu Indikasi Ponsel Ber-IMEI Ilegal"

Tekno, Seru jambi – Harga yang jauh lebih murah (miring) jika dibandingkan dengan harga di gerai resmi bisa saja menjadi indikasi ponsel memiliki nomor International Mobile Equipment Identity (IMEI) yang ilegal yang rentan sinyal terblokir.

“Perlu kesadaran untuk tidak membeli barang-barang yang secara nyata tidak resmi,” kata Wakil Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) Merza Fachys dalam diskusi di Jakarta, Selasa.

Indonesia menerapkan aturan baru untuk registrasi IMEI sejak 2020, yaitu nomor IMEI ponsel yang dijual secara resmi di Indonesia wajib harus terdaftar pada sistem Centralized Equipment Identity Register (CEIR).

Dikutip dari laman – jaringan Antaranews.com (partner Jambiseru.com), dari artikel berjudul “Harga miring salah satu indikasi ponsel ber-IMEI ilegal” Jika IMEI tidak terdaftar pada sistem CEIR, maka ponsel tidak bisa tersambung ke sinyal seluler. Aturan registrasi IMEI dibuat untuk mengatasi peredaran ponsel ilegal, yang bisa merugikan negara, produsen, dan konsumen.

Meski aturan sudah dibuat seketat mungkin, selalu ada pihak yang mencari celah, mulai dari menyediakan jasa membuka (unlock) nomor IMEI sampai menjual ponsel dengan nomor IMEI yang tidak resmi untuk dijual di Indonesia.

Ponsel dengan nomor IMEI ilegal itu sering dijual dengan harga yang jauh lebih murah dengan yang resmi, terutama untuk ponsel premium. ATSI mengajak masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan ponsel ilegal yang harganya murah.

Menurut ATSI jika konsumen secara sadar tidak membeli barang yang ilegal, maka lambat laun barang ilegal akan hilang dari pasaran.

Asosiasi Ponsel Seluruh Indonesia (APSI) sebelumnya mengatakan regulasi registrasi IMEI efektif untuk mengatasi peredaran ponsel ilegal hingga nyaris 100 persen. Sebelum registrasi IMEI, asosiasi mendapati sekitar 600.000 unit ponsel ilegal masuk ke Indonesia setiap bulan.

Data dari Direktorat Jenderal Bea Dan Cukai Kementerian Keuangan menunjukkan ada 962 penindakan untuk kasus penyelundupan ponsel pada 2018-2019, ketika belum ada registrasi IMEI.

Pada 2020-2022, yang masih berjalan, penindakan penyelundupan ponsel menurun ke angka 361.(rdo)