Oleh : Al Haris *
Jambiflash.com – Alhamdulillah. Saya mengawali catatan ini dengan rasa syukur yang tulus. Di tengah berbagai dinamika yang terjadi di lapangan, termasuk insiden antar pemain yang tentu menjadi catatan evaluasi bersama, Stadion Jambi Swarnabhumi akhirnya membuktikan satu hal penting: stadion ini mampu menjadi tuan rumah laga besar, laga penentu, laga penuh gengsi—final Turnamen Sepak Bola Gubernur Cup 2026.
Selama ini, Stadion Jambi Swarnabhumi atau yang sering disebut JSB kerap menjadi bahan perbincangan masyarakat. Ada yang ragu, ada yang bertanya, ada pula yang mengkritik. Kritik itu wajar. Bahkan bagi saya, kritik adalah bentuk kepedulian. Karena stadion ini dibangun bukan untuk kebanggaan pemerintah, melainkan untuk kepentingan masyarakat Jambi, khususnya generasi muda yang mencintai olahraga.
Hari final itu menjadi momen pembuktian. Kehadiran Sekretaris Jenderal PSSI, Puang Yunus Nusi, serta Manajer Tim Nasional Indonesia yang saat ini juga mendapat amanah sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI Jambi, memberi makna tersendiri. Ini bukan hanya soal siapa yang menang atau kalah, tetapi soal kepercayaan. Kepercayaan bahwa Jambi mampu menggelar event olahraga yang layak, tertib, dan bernilai strategis bagi masa depan sepak bola daerah.
Bagi saya pribadi, sepak bola bukan sekadar olahraga. Sepak bola adalah ruang pembelajaran. Di dalamnya ada disiplin, kerja sama, sportivitas, dan mental bertanding. Nilai-nilai inilah yang ingin kita tanamkan kepada anak-anak Jambi sejak dini. Stadion hanyalah sarana, tetapi ruhnya adalah pembinaan dan semangat kolektif masyarakat.
Saya membayangkan suatu hari nanti, dari rumput Stadion Jambi Swarnabhumi ini, lahir pemain-pemain hebat. Anak-anak Jambi yang mengenakan seragam merah putih, berdiri tegak membawa nama bangsa. Mungkin hari ini mereka masih menjadi ball boy, pemain akademi, atau penonton di tribun. Tapi dengan sistem pembinaan yang benar, mimpi itu bukan hal yang mustahil.
Turnamen Gubernur Cup 2026 menjadi salah satu bagian dari ikhtiar besar tersebut. Kompetisi daerah harus terus hidup. Bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi agenda pembinaan yang berkelanjutan. Klub-klub lokal harus diberi ruang. Talenta muda harus diberi panggung. Dan pemerintah daerah harus hadir sebagai fasilitator, bukan penguasa lapangan.
Tentu, insiden yang terjadi di lapangan tidak kita tutupi. Justru dari situlah kita belajar. Sepak bola yang sehat bukan sepak bola tanpa konflik, melainkan sepak bola yang mampu menyelesaikan konflik dengan dewasa dan bermartabat. Evaluasi akan kita lakukan bersama PSSI Jambi, panitia, dan seluruh pemangku kepentingan agar ke depan kualitas kompetisi semakin baik.
Saya ingin menegaskan bahwa pembangunan olahraga tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus berjalan seiring dengan pembangunan sumber daya manusia. Infrastruktur tanpa pembinaan akan menjadi monumen kosong. Sebaliknya, semangat tanpa fasilitas akan berjalan tertatih. Stadion Jambi Swarnabhumi adalah salah satu titik temu dari dua hal tersebut.
Kepada seluruh masyarakat Provinsi Jambi, saya sampaikan terima kasih. Atas doa, dukungan, bahkan kritik yang kadang terasa pedas namun sesungguhnya menyehatkan. Pemerintah Provinsi Jambi akan terus berupaya menjadikan fasilitas publik benar-benar hidup dan memberi manfaat nyata.
Saya percaya, masa depan sepak bola Jambi tidak ditentukan oleh satu pertandingan atau satu turnamen. Ia ditentukan oleh konsistensi, oleh kesabaran, dan oleh keberanian untuk terus berbenah. Dari stadion ini, dari kompetisi ini, dari semangat kebersamaan ini, kita menyalakan harapan.
Insya Allah, Jambi tidak hanya dikenal karena alam dan budayanya, tetapi juga karena prestasi olahraganya. Dan ketika suatu hari nama Jambi disebut dalam skuad Tim Nasional Indonesia, kita semua tahu: harapan itu pernah kita tanam bersama, di Stadion Jambi Swarnabhumi.(***)
* Al Haris, Gubernur Jambi






