Senin, 18 Mei 2020

Drama Korea yang Tak Rekomendid Ditonton

Drama Korea yang Tak Rekomendid Ditonton

JAMBIFLASH.COM – Di masa pandemi COVID-19 seperti saat ini, sikap untuk #dirumahaja menjadi suatu keharusan. Istilah social distancing saat ini tengah digaungkan oleh pemerintah untuk menekan penyebaran COVID-19 yang jumlah kasusnya terus bertambah.

COVID-19 memaksa hampir semua orang dari berbagai lapisan masyarakat untuk membatasi diri keluar dan tetap di rumah saja. Beraktivitas dan menghabiskan sebagian besar waktu di rumah saja pasti bukan lah hal yang mudah. Penat, bosan, bahkan stres bisa saja merasuki orang-orang yang sudah terlalu lama berada di rumah.

Salah satu hal yang biasa dilakukan saat menjalani social distancing adalah dengan menonton. Menikmati berbagai tayangan di stasiun TV lokal atau platform streaming bisa saja jadi cara terbaik untuk membunuh kejenuhan selama berada di rumah saja.

Belakangan ini popularitas drama Korea di Indonesia sedang panas-panasnya. Banyak orang yang memilih untuk menonton drama Korea selama menjalani social distancing. Pilihan ini dilakukan mulai dari mahasiswa, ibu-ibu, pelajar, pasien terkait COVID-19 yang terpaksa menjalani masa isolasi diri, hingga pesohor tanah air.

Musisi Bebi Romeo mengaku ketagihan menonton drama Korea. Awalnya ia hanya mendampingi istrinya, Meisya Siregar, menyaksikan drama Korea untuk mengisi masa social distancing. Namun kini pria yang akrab dipanggil Bebi itu ‘terjerumus’ untuk menyukai dan menyaksikannya terus tiap malam bersama sang istri.

Bukan hanya Bebi Romeo, aktris senior Lydia Kandou juga kini rutin menonton drama korea. Ini dilakukannya untuk melepas rasa bosan karena terlalu lama berada di dalam rumah.

Ini tentu tak mengherankan mengingat pada masa sekarang untuk mengakses drama Korea memang tidaklah lagi rumit. Berbagai judul drama Korea bisa dengan mudah dinikmati hanya dengan berlangganan di platform streaming atau TV kabel. Dan banyak juga situs-situs yang menawarkan streaming atau download gratis.

Melihat fenomena ini, beberapa stasiun TV Indonesia mulai bersaing untuk menayangkan drama Korea. Dengan menggunakan tagar #dirumahaja dalam promosinya, mereka berharap penonton bisa menikmati drama Korea yang disuguhkan.

Namun sejujurnya, bagi sebagian besar penggemar menonton drama Korea di stasiun TV lokal tak lah semenarik di platform streaming atau TV kabel berbayar. Alasannya sederhana, tak ada iklan, tak ada sensor, tak ada dubbing, dan tak ada bagian yang dipotong. Durasi dan adegan yang ditayangkan sesuai dengan versi asli yang disiarkan di Korea Selatan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, durasi drama Korea yang tayang di TV lokal tidaklah selama aslinya. Meski sama-sama tayang selama satu jam, tapi drama Korea yang tayang di TV lokal diusik oleh banyaknya iklan. Sehingga kalau ditotalkan bisa saja iklan lebih panjang dari durasi episode drakor tersebut.

Bukan hanya dari iklan, durasi drama Korea juga akan dipangkas karena ada adegan-adegan yang dipotong. Pilihan ini dilakukan karena adegan itu dirasa tak pantas ditampilkan di TV nasional. Alasan ini bisa diabaikan kalau stasiun TV lokal memilih drama yang ‘aman’ untuk ditayangkan agar tak menimbulkan masalah.

Belum lagi kalau pihak stasiun TV memilih untuk menggunakan teknik dubbing untuk tiap tokoh dalam drakor. Sedikit banyak penonton akan merasa terganggu untuk mendalami emosi dan menjiwai tokoh tersebut. Mungkin akan lebih baik menggunakan subtitle daripada dubbing(*)