Review film Layla Majnun (2021)

 



Jambiflash.com - Meski menggunakan nama judul yang diambil dari kisah legendaris abad ke-12 karya Nizami Ganjavi ini, film Layla Majnun nyatanya terasa lebih lokal. Mungkin bagi Anda yang belum menontonnya akan mengira bahwa perjalanan kisah cinta tragis antara karakter yang diperankan oleh Acha Septriasa dan Reza Rahadian ini akan sama dengan Layla Majnun, cerita cinta tragis nan puitis soal Layla dan Qays dari Azerbaijan.

Namun, ternyata sang sutradara sekaligus penulis, Monty Tiwa justru memilih menarik esensi legenda itu dan kemudian menggambarkannya dalam latar yang lebih Indonesia dengan latar belakang Azerbaijan sebagai lokasi awal cerita itu berasal.

Tidak ada yang salah dari keputusan Monty karena itu bisa dianggap sebagai kejutan yang positif. Film ini bisa menjadi penyegar bagi Anda yang bosan dengan kisah percintaan klasik ala film Indonesia yang monoton. 

Film ini benar-benar dikemas dengan cermat sehingga mampu membuat para penontonnya terkesan. Apalagi belakangan ini film Indonesia kebanyakan mengusung genre horor dan thriller bila dibanding genre lainnya.

Layla Majnun mampu memikat siapa pun yang menontonnya agar bisa terhanyut dalam emosi. Film ini sebenarnya mengisahkan kisah cinta klise khas masyarakat Indonesia, yang mampu membuat siapa pun merasa gregetan. Sudah sulit dalam urusan cinta, masih pula ribet dengan urusan keluarga yang terus-terusan menekan.

Formula dalam film ini patut dipuji. Dibuatnya keputusan dengan mempertahankan kepuitisan legenda Layla Majnun dalam cerita yang juga diterapkan dalam sinematografi. Anda tidak hanya menikmati keindahan pemandangan Azerbaijan tetapi juga disuguhkan kepiawaian akting dari Reza, Acha dan Baim Wong. 

Inilah yang membuat Layla Majnun tidak bisa dikatakan sebagai kisah cinta klise yang biasa terjadi pada film drama umumnya. Mungkin Anda sudah pernah melihat film seperti Ada Apa dengan Cinta? yang menerapkan

konsep cerita cinta klasik yang puitis. Dalam film Layla Majnun juga terdapat banyak puisi yang menyentuh hati penonton. Tidak hanya dari segi dialog, kepuitisan tersebut juga datang dari teknik kamera, pencahayaan, sampai teknik adegan yang diatur sedemikian rupa oleh Monty Tiwa.

Penonton akan merasa masuk dalam imajinasi tanpa terasa ganjil juga norak. Monty bisa memberikan takaran yang pas pada film ini. Keputusan sang sutradara yang tetap mempertahankan bahasa dan juga budaya asli Azerbaijan turut menjadi salah satu hal yang patut diapreasiasi dari film ini. Jika sebelumnya ada banyak film Indonesia yang mengambil latar belakang luar negeri sebagai lokasi syuting. Tidak heran bila mereka mau mengeluarkan biaya produksi yang relatif mahal demi mendapatkan "prestise" syuting di luar negeri. 

Sayangnya kadang mereka tidak memikirkan mengenai kualitas cerita yang disajikan kepada penonton. Namun, Layla Majnun mampu mematahkan anggapan tersebut. Meski mengambil pesona keindahan Azerbaijan, film ini juga mengenalkan penonton soal bahasa, masyarakat, dan budaya dari Negeri Api itu. Hal itu yang membuat film ini terasa makin kaya.

Kemampuan akting dari Reza Rahadian dan Acha Septriasa dalam memerankan karakter dalam film ini sudah tidak perlu diragukan lagi. Anda pasti sudah tidak heran lagi bila Reza Rahadian mampu memerankan karakter yang berbeda di setiap filmnya. Ada juga Acha yang mampu menghipnotis penonton agar betah menyaksikan hingga akhir. 

Karakter yang diperankan oleh Baim Wong juga sukses menarik simpati penonton meskipun seiring berjalannya secita malah mengundang emosi penonton. Pada akhirnya, film Layla Majnun hanyalah film cinta klasik dengan cerita yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia.

Namun pada saat yang bersamaan, film ini terasa angin segar bagi penonton

terutama bagi mereka yang ingin merehatkan diri dari kepenatan pandemi.(**)